Suaraindonesiaku.com, Maros, — Penerima Hibah DPPM Kemendiktsaintek skema Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Multi Tahun Universitas Hasanuddin berkolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Parepare menyelenggarakan pelatihan “Pembuatan Pupuk Organik untuk Tanaman Sumber Pakan Lebah Trigona” di Desa Pucak, Kabupaten Maros, (02/10/2025)
Kegiatan menyasar komunitas Panrita Cani dan Kelompok Tani Puncak Jaya, serta dihadiri Kepala Desa Pucak, narasumber Iseh Nurool Abidin, ST, dan tim pelaksana yang diketuai Dr. Andi Masniawati, M.Si.
Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat keterampilan petani dan pegiat perlebahan dalam memproduksi pupuk organik dari bahan lokal agar tanaman pakan lebih subur dan berbunga optimal. Tanaman pakan yang ditanam bersama peserta antara lain bunga matahari, kaliandra, cabai, melon madu, mentimun, labu madu, bunga air mata pengantin, marigold, dan beragam tanaman pagar/pengisi lainnya.
Selain memperkaya pakan lebah, tanaman hortikultura seperti cabai memberi nilai tambah ekonomi rumah tangga. Hasil panen dapat dijual segar maupun diolah menjadi produk hilir seperti bubuk cabai, irisan cabai kering, sambal kemasan, hingga acar mendorong diversifikasi usaha dan menambah pendapatan warga.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Pucak menyampaikan dukungan terhadap inisiatif kampus yang menyasar penguatan ekonomi warga melalui praktik pertanian ramah lingkungan. Pemerintah desa menilai pendekatan pelatihan plus pendampingan berkelanjutan relevan dengan kebutuhan kelompok tani setempat.
Narasumber Iseh Nurool Abidin memaparkan prinsip kesuburan tanah dan peran mikroorganisme pada proses dekomposisi. Ia menekankan pentingnya konsistensi bahan baku, rasio karbon–nitrogen, serta teknik fermentasi yang tepat agar pupuk organik—baik padat maupun cair—berkualitas, aman, dan efisien digunakan. Sesi praktik kemudian memandu peserta menyiapkan bahan, memfermentasi, hingga cara aplikasi ke bedengan dan tanaman pagar pakan lebah.
Ketua pelaksana Dr. Andi Masniawati menjelaskan, program PDB di Pucak menautkan tiga sasaran: perbaikan tanah melalui pupuk organik, peningkatan ketersediaan pakan lebah di pekarangan dan kebun, serta penguatan kapasitas kelompok melalui demplot dan monitoring hasil.
“Dengan demplot, warga punya rujukan nyata; kita ukur dampaknya pada pertumbuhan tanaman pakan dan produksi madu,” terangnya.
Kegiatan ini memperlihatkan kolaborasi lintas pihak: perguruan tinggi sebagai penyedia pengetahuan terapan, pemerintah desa sebagai penggerak di tingkat lokal, serta komunitas petani dan pegiat lebah sebagai pelaksana di lapangan. Dengan pendekatan tersebut, pelatihan diharapkan tidak berhenti pada transfer teknologi, melainkan berlanjut menjadi praktik rutin yang menguntungkan secara ekonomi sekaligus menjaga kualitas lingkungan.







