Suaraindonesiaku.com, Maros — Program pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal terus digencarkan melalui kolaborasi perguruan tinggi dan komunitas desa. Tim pelaksana Hibah DPPM Kemendiktisaintek Skema Pemberdayaan Desa Binaan menyelenggarakan Pelatihan Panen Higienis Lebah Trigona di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros pada 24 Oktober 2025.
Program ini diketuai oleh Dr. Andi Masniawati, M.Si, dosen Departemen Biologi Universitas Hasanuddin (UNHAS), dan menggandeng Komunitas Panrita Cani sebagai mitra binaan yang dikoordinatori Muhammad Albaar Al Qayyum. Peserta pelatihan berasal dari anggota komunitas perlebahan lokal dan masyarakat Desa Pucak yang sedang mengembangkan budidaya lebah trigona sebagai sumber ekonomi berkelanjutan.
Pelatihan menghadirkan narasumber nasional, Ir. Hamka Maddu, praktisi perlebahan yang telah berkecimpung sejak tahun 2000. Ia mengajarkan teknik panen madu higienis, sanitasi alat panen, serta perawatan koloni yang memenuhi standar bersih.
“Kesalahan paling umum peternak pemula adalah panen tanpa memperhatikan kebersihan. Akibatnya madu cepat rusak dan tidak layak jual. Standar higienis adalah kunci agar madu bernilai ekonomi tinggi,” jelas Hamka Maddu saat sesi pelatihan.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Desa Pucak, Abdul Razak, perangkat desa, mahasiswa Biologi dan Kehutanan UNHAS, dosen pendamping, serta pengurus IKABIO UNHAS. Dalam sambutannya, Abdul Razak menyampaikan dukungan penuh pemerintah desa terhadap pengembangan perlebahan sebagai potensi unggulan desa.
“Program ini sangat bermanfaat dan relevan untuk masyarakat kami. Budidaya trigona bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim Pelaksana, Dr. Andi Masniawati, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari roadmap pemberdayaan desa berbasis sains. “Pelatihan ini bukan kegiatan sesaat. Kami membangun model Desa Binaan Perlebahan Trigona yang berkelanjutan melalui pendampingan produksi, mutu, dan pemasaran,” tegasnya.
Program Hibah Desa Binaan ini akan berlanjut dengan agenda lanjutan meliputi: Sertifikasi kualitas produk madu, Penguatan kelembagaan usaha komunitas, Pelatihan branding dan pemasaran digital, dan Pengembangan kawasan edukasi ekologi berbasis perlebahan.
Komunitas Panrita Cani yang menjadi mitra binaan berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kapasitas peternak lebah lokal. “Panen higienis ini jadi ilmu baru bagi kami untuk meningkatkan kualitas madu agar bisa masuk pasar yang lebih luas,” ujar koordinator komunitas, Muhammad Albaar Al Qayyum.
Dengan pelatihan ini, Desa Pucak semakin memperkuat posisinya sebagai kawasan edukasi konservasi dan pengembangan ekonomi lingkungan di Kabupaten Maros.







