Suaraindonesiaku,com.Bulukumba – Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) BIMA melaksanakan program pemberdayaan kepada IKM Nau Palm Sugar di Desa Sipaenre, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Program ini berfokus pada pengembangan dan diversifikasi gula lontar melalui penerapan teknologi tepat guna, peningkatan kapasitas produksi, inovasi produk dan kemasan, manajemen usaha, serta pemasaran digital.
Ketua tim PKM BIMA, Gina Audina P Alhabsy, mengatakan program dirancang untuk meningkatkan nilai tambah gula lontar sekaligus membantu mitra mengembangkan usaha dari proses produksi hingga pemasaran.
“Program ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah gula lontar melalui penerapan teknologi tepat guna, diversifikasi produk, perbaikan kemasan, serta penguatan pemasaran digital,” ujarnya.
IKM Nau Palm Sugar merupakan industri kecil berbasis rumah tangga yang memanfaatkan nira lontar sebagai bahan baku gula merah. Selama ini proses produksi masih dilakukan secara tradisional, mulai dari penyaringan nira, pemasakan, pengentalan, pencetakan hingga pendinginan.
Dalam satu hari, mitra memperoleh sekitar 20–30 liter nira dan menghasilkan sekitar 10–15 kilogram gula merah cetak, bergantung pada ketersediaan nira dan kondisi cuaca.
Melihat potensi tersebut, tim PKM BIMA mendorong pengembangan produk agar tidak hanya berhenti pada gula merah cetak. Produk kemudian dikembangkan menjadi gula pasir lontar (palm sugar) dan gula cair lontar, dengan varian original serta tambahan bahan alami seperti jahe, pandan dan kelapa.
Terapkan Teknologi Tepat Guna
Rangkaian program diawali dengan observasi kondisi usaha, proses produksi, potensi bahan baku, kebutuhan teknologi serta permasalahan yang dihadapi mitra. Hasil identifikasi tersebut menjadi dasar dalam perancangan teknologi dan pendampingan yang sesuai dengan skala IKM.
Tim kemudian memberikan pelatihan diversifikasi produk dan manajemen usaha dengan pendekatan learning by doing. Mitra terlibat langsung dalam pengolahan gula merah menjadi gula pasir, pembuatan gula cair, formulasi varian rasa, pengemasan, pelabelan, hingga perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP).
Teknologi yang diterapkan meliputi peralatan penggerusan, pengeringan dan pengayakan gula merah lontar. Proses pengolahan dilakukan melalui penggerusan, pengeringan suhu rendah, pengayakan, formulasi bahan alami dan pengemasan kedap udara.
Peralatan dirancang sesuai kebutuhan IKM, di antaranya mesin penggerus berkapasitas sekitar 1–2 kilogram per proses, oven pengering bersuhu 50–60 derajat Celsius, serta ayakan stainless steel untuk menghasilkan ukuran gula pasir yang lebih seragam.
Penerapan teknologi dilakukan melalui demonstrasi dan praktik bersama agar mitra mampu mengoperasikan peralatan serta menjaga konsistensi mutu produk secara mandiri.
Kemasan dan Pemasaran Diperkuat
Selain teknologi produksi, tim PKM BIMA memberikan pendampingan dalam pengembangan kemasan. Produk diarahkan menggunakan standing pouch berbahan food grade dengan sistem kedap udara, dilengkapi branding, label dan informasi produk.
Aspek manajemen usaha juga diperkuat melalui pelatihan pencatatan keuangan sederhana, perhitungan biaya produksi dan penentuan harga jual.
Untuk memperluas pasar, mitra diperkenalkan dengan strategi pemasaran digital melalui media sosial dan marketplace. Langkah ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran produk dari lingkungan sekitar Desa Sipaenre ke wilayah yang lebih luas.
Tingkatkan Nilai Tambah Gula Lontar
Melalui penerapan teknologi tepat guna, diversifikasi produk dan inovasi kemasan, gula lontar diharapkan memiliki nilai tambah, mutu dan daya saing yang lebih baik.
Program ini menargetkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan mitra, tersedianya produk gula pasir dan gula cair lontar dengan berbagai varian, peningkatan mutu dan daya simpan, kemasan yang lebih kompetitif, serta berkembangnya pemasaran melalui platform digital.
Tim PKM BIMA juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada IKM Nau Palm Sugar atas keterbukaan, kerja sama, dan partisipasi aktif selama pelaksanaan program. Dukungan mitra menjadi salah satu kunci dalam mendorong pengembangan gula lontar menjadi produk pangan lokal yang lebih bernilai tambah.
Melalui PKM BIMA, tim berharap pengolahan gula lontar di Desa Sipaenre tidak hanya menjadi produk tradisional, tetapi dapat berkembang menjadi produk pangan lokal bernilai tambah yang mampu memperkuat usaha IKM dan mendukung perekonomian masyarakat.







